Surabaya, Metrosurya.com – Sejumlah tokoh nasional hadir dalam Dialog Kebangsaan bertema “Pergulatan Cita, Asa, dan Realita Sebuah Bangsa” yang digelar di Gedung Juang 45 Surabaya pada Sabtu (23/8/2025) siang, guna meningkatkan wawasan kebangsaan, sekaligus memaknai momentum peringatan ke-80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tiga narasumber utama dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Prof. Dr. Meutia Hatta, putri Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta; Ganang Priyambodo Soedirman, cucu Panglima Besar Jenderal Soedirman; serta Airlangga Pribadi Kusman, S.IP., M.Si., Ph.D, dosen Universitas Airlangga. Acara ini dimoderatori oleh Dosen UNTAG Surabaya, Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom.
Baca juga: PPM Ranting Khusus Kodam DPC Surabaya dan Berita Cakrawala Gelar Dialog Kebangsaan.
Dalam pemaparannya, Prof. Meutia Hatta menekankan pentingnya kembali pada tujuan awal berdirinya Republik Indonesia, yakni mewujudkan kedaulatan rakyat demi kesejahteraan bersama. Ia menyoroti perlunya mengembalikan roh Pasal 33 UUD 1945 agar pembangunan ekonomi benar-benar berpihak pada rakyat.
“Yang bisa membuat rakyat sejahtera adalah negara, bukan sektor bisnis atau privat. Karena itu, penguatan kembali Pasal 33 adalah hal mendesak,” ujar Meutia.
Sementara itu, Ganang Priyambodo Soedirman menegaskan perlunya generasi muda terus meneladani nilai perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ia bahkan menyebut sedang dipersiapkan sebuah film untuk mengangkat kembali semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda.
“Nilai perjuangan harus terus dihidupkan, terutama agar anak-anak muda dan generasi milenial memiliki jiwa kebangsaan yang kuat,” ungkap Ganang.
Adapun Airlangga Pribadi Kusman menyoroti tantangan bangsa di era demokrasi yang kerap melahirkan fragmentasi sosial. Menurutnya, dialog kebangsaan menjadi ruang penting untuk menemukan jalan keluar bersama.
“Kita perlu menyadari bahwa bangsa ini utuh. Forum ini bertujuan membedah persoalan-persoalan kebangsaan sekaligus mencari solusi konkret agar cita-cita kemerdekaan tidak sekadar menjadi perayaan simbolis,” kata Airlangga.
Dialog kebangsaan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat wawasan kebangsaan, mempererat persatuan, serta mengingatkan kembali masyarakat bahwa kemerdekaan diraih melalui perjuangan panjang yang tidak mudah.(@dex)
Editor : redaksi