Metrosurya.com,LAMONGAN – Di tengah gencarnya upaya Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam mengentaskan kemiskinan dan menangani dampak sosial di wilayahnya—seperti penyaluran puluhan ton beras bantuan yang baru-baru ini digelontorkan untuk warga terdampak banjir Bengawan Jero—potret perjuangan hidup nyata kembali mengetuk pintu kemanusiaan masyarakat Lamongan.
Sabtu ( 18/07/2026)
Kali ini, giliran aksi tanggap dan kepedulian sosial dari anggota Polres Lamongan, Ipda Purnomo, yang menjadi secercah harapan bagi penuntasan anak putus sekolah di wilayah pelosok.
Bertaruh Masa Depan di Warung Malam
Adalah Cinta (15), seorang anak gadis piatu yang duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri di Kembangbahu, Lamongan.
Bersama dua saudaranya yang juga berstatus yatim, Cinta harus menelan getirnya kehidupan di usia yang teramat belia. Mereka sekeluarga tinggal di Dusun Krajan RT 03, Desa Sukobendu, Kecamatan Mantub, Lamongan.
Demi bisa melunasi biaya sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Cinta terpaksa bekerja di sebuah warung malam.
Saban hari, dari jam empat sore hingga pukul sepuluh malam, ia memeras keringat dengan upah hanya Rp25.000 per hari. Bahkan, demi rupiah tersebut, Cinta pernah seminggu penuh tidak pulang ke rumah, menyisakan kekhawatiran mendalam di hati sang ayah.
Lingkungan warung yang kerap memutar musik keras dan menyediakan minuman dewasa sebenarnya sama sekali tidak ramah bagi anak sekecil Cinta. Namun, ia tidak punya banyak pilihan. Ayahnya, Pak Edi, hanyalah seorang penjual mainan keliling dengan penghasilan yang tidak menentu. Seringkali, sang ayah pulang dengan tangan hampa tanpa membawa uang sepeser pun.
Sentuhan Kemanusiaan Ipda Purnomo dan Tamparan bagi Dunia Pendidikan
Mendengar jeritan hidup keluarga ini, Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan yang dikenal aktif dalam aksi sosial, langsung turun tangan. Tidak ingin masa depan Cinta hancur di lingkungan warung malam, Ipda Purnomo memberikan modal usaha tambahan agar Cinta bisa berjualan secara mandiri.
Per hari ini, Cinta dilaporkan sudah mulai berdagang dengan modal baru tersebut.
Baca Juga: Kasus KIP Kuliah Unisla: Pelapor Cabut Aduan di Kejari Lamongan, Alihkan Laporan ke Kejati Jatim
Langkah ini diambil agar Cinta bisa menarik diri dari pekerjaan malamnya dan kembali fokus menata masa depan dan pendidikannya.
"Anak-anak seperti Cinta ini harus terus diberikan pendampingan oleh pihak terkait. Jangan sampai kita lelah dan bosan mendampingi mereka, karena ini pasti memerlukan kesabaran yang luar biasa, terutama dari pihak guru di sekolahnya," ujar sebuah catatan kritis di lapangan.
Aksi nyata ini sekaligus menjadi refleksi sekaligus tamparan keras bagi dunia pendidikan.
Sudah sepatutnya pihak sekolah dan lingkungan sekitar tidak menutup mata terhadap latar belakang siswanya.
Baca Juga: Dua Pelajar Meninggal Dunia Tabrakan Adu Depan, Polisi Lamongan Lakukan Evakuasi
"Jangan hanya bisa memberi label atau mengatakan seorang anak itu 'nakal' jika kita sendiri belum bisa mengulurkan tangan untuk membantu kesulitan mereka," tegas IPDA Purnomo.
Langkah taktis yang dilakukan oleh Ipda Purnomo ini sejalan dengan komitmen makro Pemkab Lamongan yang belakangan ini gencar menurunkan jaring pengaman sosial ke desa-desa.
Sinergi antara aparat kepolisian yang humanis dan kepekaan sosial instansi pendidikan kini sangat dinantikan, agar tidak ada lagi anak-anak di Lamongan yang harus mengorbankan masa kecil dan keselamatannya di warung malam demi selembar ijazah sekolah.
( Sugianto )
Editor : redaksi