Metrosurya.com,Rembang – Menjelang rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan pada 1 September 2025, dinamika politik dan sosial di Kabupaten Rembang mulai terasa. Sejumlah selebaran dengan slogan “Rembang Cinta Damai” beredar luas di media sosial. Kampanye ini didorong oleh pemerintah daerah bersama tokoh politik, sebagai upaya meredam potensi kericuhan sekaligus menjaga stabilitas daerah.
Aspirasi Diakui, Damai Diutamakan
Ketua DPD Partai Gelora Rembang, Nur Makhasin, menegaskan bahwa penyampaian pendapat di muka umum adalah hak setiap warga negara. Namun, ia mengingatkan bahwa aspirasi hendaknya disalurkan secara tertib, sesuai aturan hukum, dan menjauhi aksi anarkis.
“Kami menghormati masyarakat yang ingin bersuara. Tetapi jangan sampai aksi tersebut justru merugikan kepentingan bersama. Rembang harus tetap damai,” jelas Makhasin.
Menurutnya, pesan “Rembang Cinta Damai” adalah ajakan moral agar masyarakat tidak mudah terprovokasi isu-isu yang bisa memecah belah. Stabilitas daerah dinilai penting agar roda pemerintahan dan pembangunan tetap berjalan.
Gerakan Mahasiswa Siap Turun Aksi
Di sisi lain, kalangan mahasiswa juga bersuara. Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rembang, Azza, membenarkan bahwa mahasiswa sedang menyiapkan aksi bersama sejumlah elemen masyarakat.
Baca Juga: Suspensi SPPG di Rembang Disinyalir Tidak Sesuai Aturan, KASPPG Terancam SP1
Namun, Azza menekankan bahwa aksi yang akan digelar tetap berada pada koridor damai. “Kami akan menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi tetap dengan cara-cara yang santun dan tidak menimbulkan keributan,” ungkapnya.
Ia menilai, demonstrasi adalah bagian dari proses demokrasi. Selama dilakukan dengan damai dan tertib, aksi tersebut justru menjadi ruang kritik dan kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
Menjaga Kondusivitas di Tengah Dinamika
Baca Juga: Tiga Kwartir Ranting Gunem, Sluke, Sedan Absen Dalam Gelaran Eagle Scott Rembang 2026
Seruan damai dari berbagai pihak menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa gesekan sosial bisa berdampak buruk bagi masyarakat luas. Apalagi, Rembang tengah menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang membutuhkan situasi kondusif.
“Jangan sampai perbedaan pendapat justru memicu perpecahan. Mari kita utamakan musyawarah dan persaudaraan,” tambah Makhasin.
Dengan demikian, menjelang aksi 1 September, publik Rembang diingatkan untuk tetap mengedepankan kedamaian. Aspirasi boleh disuarakan, namun ketertiban harus tetap dijaga agar Kabupaten Rembang tetap harmonis.
# Sigit joper
Editor : redaksi