Surabaya, Metrosurya.com — Di balik hiruk pikuk kota Surabaya, terdapat kisah inspiratif dari sekumpulan anak perantau yang bekerja sebagai Tenaga Alih Daya (TAD) di lingkungan kantor BUMN. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Malang, Blitar, Bojonegoro, Lamongan, hingga Rembang, Jawa Tengah.
Mereka pejuang keluarga yang tinggal dan beristirahat di salah satu ruangan bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal sementara, tepat di area pool kendaraan. Meski jauh dari kampung halaman, kebersamaan dan kekompakan menjadi pengikat kuat yang membangun rasa keluarga di antara mereka.
Mereka bekerja di berbagai lini, mulai dari satuan pengamanan (Satpam), pengemudi (driver), hingga cleaning service. Di sela-sela padatnya rutinitas, malam ini mereka berkumpul di dapur kecil sederhana untuk memasak bersama. Menu yang tersaji pun sangat merakyat: tumis sawi, ikan goreng, tahu, dan mendol—yang diracik dengan penuh cita rasa oleh Karmen, sosok serbabisa yang dikenal cekatan di antara rekan-rekannya.

“Kita semua mencari nafkah di sini, harus bisa menjalin persaudaraan dengan solidaritas tanpa batas,” ujar Karmen sembari tersenyum, tangannya lincah mengaduk wajan di atas kompor gas mini.
Kebersamaan itu terasa hangat. Sambil memasak, mereka saling bercanda dan berbagi cerita selepas bekerja. Tak ada keluhan, hanya semangat dan tawa yang mengisi ruang sempit itu.
“Malam seperti ini jadi obat rindu kampung halaman. Kita di sini berjuang demi keluarga, demi masa depan,” tambah Sapto salah satu rekan mereka.
Kisah para pekerja TAD ini menggambarkan bahwa kerja keras tak selalu tentang hasil semata, tetapi juga soal bagaimana menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah pejuang rupiah yang tak hanya tangguh di lapangan, tapi juga hangat dalam kebersamaan. (@dex)
Editor : redaksi