SURABAYA, 15 September 2026 — Suasana duka menyelimuti Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (15/9/2026) siang. Sejumlah anggota Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) menggelar aksi tabur bunga ke laut sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi 11 sopir anggota GSJT yang tercatat dalam manifes KMP Virgo Transport 8.
Sebelum melakukan tabur bunga, perwakilan GSJT terlebih dahulu berkoordinasi dengan tim SAR gabungan untuk memastikan keberadaan anggotanya yang berada di dalam kapal. Berdasarkan hasil verifikasi, 11 anggota GSJT tercatat dalam daftar penumpang, lengkap dengan data kendaraan yang mereka bawa.
Setelah proses verifikasi selesai, anggota GSJT mendapat izin untuk melakukan tabur bunga dari dermaga dengan pendampingan petugas. Mereka kemudian menaburkan bunga ke laut dan melanjutkannya dengan doa bersama.
Koordinator GSJT, Supriyono, mengatakan doa tersebut dipanjatkan bagi para korban yang hingga kini masih dalam pencarian.
“Kami berdoa supaya kawan-kawan yang belum ditemukan segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat,” kata Supriyono.
Bagi GSJT, aksi tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan kepada rekan sesama sopir. Aksi itu juga menjadi ungkapan keprihatinan terhadap keselamatan para sopir logistik yang selama ini menjadi pengguna jasa transportasi laut.
Supriyono menilai rangkaian kecelakaan kapal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya bagi operator dan pengusaha jasa transportasi laut.
“Ini yang harus jadi evaluasi bersama, apalagi dengan pengusaha kapal. Dalam tiga bulan, hari ini saja sudah berulang kali kejadian seperti ini. Lagi-lagi kami sebagai sopir logistik yang menjadi korban,” ujarnya.
11 Sopir GSJT Tercatat dalam Manifes
KMP Virgo Transport 8 sebelumnya mengalami insiden di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Berdasarkan data manifes, kapal tersebut membawa 243 orang yang terdiri atas penumpang dan awak kapal, serta mengangkut 89 kendaraan. Data yang dirilis otoritas juga mencatat terdapat 126 sopir dan kernet di dalam kapal.
Hingga pembaruan data operasi SAR pada 15 September 2026, sebanyak 114 orang telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, 108 orang dinyatakan selamat dan enam orang meninggal dunia. Sementara itu, 129 orang lainnya masih dalam pencarian.
Operasi pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Kondisi cuaca dan gelombang laut yang kurang bersahabat menjadi salah satu tantangan dalam proses pencarian.
“Kami Tidak Mau Menyetorkan Nyawa”
GSJT berharap tragedi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat standar keselamatan transportasi laut, khususnya bagi para pekerja logistik yang setiap hari menggunakan kapal sebagai bagian dari aktivitas pekerjaannya.
Menurut Supriyono, para sopir merupakan pengguna jasa yang membayar layanan transportasi sehingga berhak memperoleh jaminan keselamatan selama perjalanan.
“Harapan kami ke depan, tolong benahi ini karena kami pengguna jasa, kami bayar. Kami tidak mau menyetorkan nyawa meskipun kami menggunakan jasa itu,” ujarnya.
Aksi tabur bunga di Pelabuhan Tanjung Perak menjadi pesan sekaligus bentuk solidaritas GSJT di tengah proses pencarian yang masih berlangsung. Mereka berharap 11 rekannya bersama seluruh korban yang masih belum ditemukan dapat segera ditemukan.
Bagi para sopir, perjalanan membawa logistik merupakan bagian dari upaya mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga. Perjalanan tersebut semestinya berakhir dengan kepulangan yang selamat, bukan menjadi perjalanan yang mempertaruhkan nyawa.
(arry kidz)
Editor : redaksi