BEKASI || METRO SURYA -Dunia pendakian Indonesia tengah menghadapi titik krusial. Di tengah maraknya komunitas pecinta alam, muncul kegelisahan tentang arah gerakan yang mulai bergeser dari nilai-nilai dasar. Pendakian tak lagi sekadar soal menaklukkan ketinggian, tetapi tentang warisan apa yang ditinggalkan bagi alam dan generasi mendatang.
Keresahan itu mengemuka dalam diskusi yang berlangsung di kawasan Bekasi hingga Waduk Pondok Hijau, pada 20 April 2026. Tiga tokoh pegiat alam hadir membedah persoalan sekaligus menawarkan arah baru: Mas Aji, penggagas komunitas pecinta alam Bekasi; Mas Nyonk, tokoh senior pendaki Jabodetabek; serta Gus Pri, Ketua PENDAKI JAWA TIMUR (PANJAT).duduk bersama membuat diskusi kecil untuk membuat konsep baru terkait komunitas pendaki di era modern.
Baca Juga: PANJAT Menyapa Kemolekan "Jalur Sunyi" Penanggungan Via Sumber Lumpang
Mas Aji menyoroti fenomena komunitas yang kian menjamur namun kehilangan ruh. Ia menilai, tidak sedikit komunitas yang terjebak pada kegiatan seremonial tanpa kontribusi nyata bagi lingkungan.
“Banyak komunitas berdiri bukan lagi atas dasar persaudaraan atau pelestarian, tetapi kepentingan pragmatis. Bahkan ada yang menjadikannya alat untuk keuntungan pribadi,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi maraknya “pemekaran” komunitas yang dipicu ego dan perbedaan kepentingan, yang justru melemahkan semangat silaturahmi di kalangan pecinta alam.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Mas Nyonk, pendaki kawakan yang telah menaklukkan Gunung Lawu sejak 1987. Ia menawarkan konsep konkret bertajuk Perawatan Jalur Estafet, sebuah sistem pembagian tanggung jawab perawatan jalur pendakian berdasarkan ketinggian.
Zona 0–1.000 mdpl akan dikelola pendaki senior, zona 1.000–2.000 mdpl oleh pendaki usia produktif, dan zona 2.000 mdpl ke atas oleh pendaki muda dengan fisik prima.
Baca Juga: Tak Hanya Mendaki Gunung, Pendaki Jawa Timur (PANJAT) Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadan
“Dengan sistem ini, jalur bisa dirawat secara menyeluruh dari basecamp hingga puncak, termasuk penataan ulang penanda jalur dengan melibatkan Perhutani dan sponsor,” jelasnya.
Tak hanya itu, perhatian juga diarahkan pada fenomena tektok—pendakian cepat tanpa menginap—yang kini marak di kalangan pelajar. Tren ini dinilai berisiko karena kerap mengabaikan aspek keselamatan demi konten atau kebanggaan semu.
Sebagai langkah preventif, mereka mencoba merancang program edukasi melalui sesi berbagi di sekolah-sekolah. Program ini bertujuan membangun kesadaran tentang risiko pendakian, mengubah pola pikir dari sekadar “menginjak gunung” menjadi “merawat gunung”, serta memperkuat kolaborasi antara pelajar, Mapala, dan instansi pemerintah.
Baca Juga: JELAJAH RANUKUMBOLO GIAT AWAL "PANJAT " SETELAH DEKLARASI
Gus Pri menegaskan bahwa visi besar dari gagasan ini adalah menciptakan ekosistem pendakian yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Jika semua elemen terlibat—pelajar, mahasiswa, hingga pemerintah—pengelolaan gunung bisa dilakukan secara profesional. Kita tidak hanya datang untuk mencapai puncak, tapi benar-benar merawatnya,” ujarnya optimistis.
Diskusi ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan pendakian Indonesia di era digitalisasi ini tidak lagi bertumpu pada ego pencapaian, konten, validasi dan existensi,melainkan pada tanggung jawab kolektif untuk menjaga alam. Sebuah langkah awal menuju wajah baru komunitas pendaki yang lebih dewasa, berdaya guna, dan berkelanjutan.(@k.47)
Editor : redaksi