Metrosurya.com,Jawa Tengah, - Negara tidak selalu runtuh oleh invasi asing atau krisis ekonomi. Banyak negara justru ambruk ketika moral diperalat dan akal sehat dijinakkan. Runtuh dari dalam, pelan, dan sering kali disambut dengan tepuk tangan.
Hari ini kita menyaksikan dua gejala berbahaya yang berjalan beriringan: agama diseret ke politik kekuasaan, dan pendidikan tidak hanya dibungkam administrasi, tetapi juga bisa dibeli oleh kekuasaan.
Baca Juga: Sanksi Berat ASN Mesum di Musala Rembang Kini di Tangan Bupati
Tokoh agama sejatinya adalah penjaga nurani publik. Ia berdiri di luar kekuasaan agar mampu menegur ketika kekuasaan menyimpang. Namun ketika tokoh agama masuk terlalu dalam ke politik praktis, maka agama kehilangan jaraknya. Mimbar berubah menjadi alat legitimasi. Ayat dan dalil dipilih sesuai kepentingan. Tuhan dipakai sebagai stempel kekuasaan.
Pada saat itu, agama tidak lagi menjadi cahaya, melainkan alat. Bukan lagi penuntun kebenaran, tapi pembenaran kekuasaan. Umat dipecah, kritik dimatikan, dan loyalitas politik disamarkan sebagai ketaatan iman. Negara kehilangan fondasi etikanya.
Namun kerusakan tidak berhenti di sana. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi benteng terakhir akal sehat juga mengalami pembusukan yang lebih sunyi, tetapi lebih mematikan.
Guru tidak lagi sepenuhnya mendidik. Mereka disibukkan oleh administrasi yang menumpuk dan target-target formal yang menguras energi. Lebih parah lagi, pendidikan perlahan kehilangan independensinya.
Baca Juga: Banpres Miliaran Rupiah Dialokasikan Di Beberapa Sekolah di Blora SMPN 3 Blora Terima 2 Miliar
Kurikulum bisa diarahkan,Kebijakan bisa disesuaikan. Suara kritis bisa ditekan. Kampus dan sekolah bisa “diamankan” dengan anggaran, jabatan, atau regulasi.
Ketika pendidikan bisa dibeli oleh kekuasaan, maka yang diajarkan bukan lagi kebenaran, melainkan kepatuhan.
Murid tidak dilatih berpikir kritis, tetapi dibiasakan menerima. Guru tidak didorong menjadi pendidik merdeka, tetapi aparat sistem yang jinak. Ilmu kehilangan keberanian, dan intelektual kehilangan integritas.
Di sinilah lingkaran kehancuran itu lengkap:
agama kehilangan keberanian moral,
pendidikan kehilangan kebebasan berpikir.
Negara mungkin masih berdiri secara administratif. Pemilu tetap berjalan. Gedung-gedung tetap megah. Namun sesungguhnya fondasi sudah rapuh Karena kekuasaan tanpa koreksi moral akan cenderung tiran, dan masyarakat tanpa pendidikan kritis akan mudah dikendalikan.
Sejarah tidak pernah berbohong:
tirani tidak lahir dari rakyat yang cerdas dan berani,
melainkan dari pendidikan yang dibungkam dan agama yang diperalat.
Menyelamatkan negara berarti mengembalikan agama ke posisinya sebagai penuntun nurani, bukan alat politik Dan membebaskan pendidikan dari belenggu kekuasaan, agar guru kembali mendidik manusia merdeka, bukan mencetak kepatuhan massal.
Baca Juga: Disdikbud Jombang Sosialisasikan SPMB SMP 2026/2027, Tekankan Transparansi dan Kepatuhan Aturan
Karena negara yang benar-benar kuat bukan negara yang mampu mengontrol segalanya,
melainkan negara yang berani dikritik oleh agama yang jujur
dan dipertanyakan oleh pendidikan yang bebas
Opini oleh :
Suharso Hidayah,S.E.,M.Si.
Editor : redaksi