Metrosurya.com,JOMBANG, 28 AGUSTUS 2026 — Apa pun hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), kepentingan dan kesejahteraan warga Nahdliyin harus tetap menjadi perhatian utama. Muktamar diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan organisatoris, tetapi juga mampu melahirkan semangat dan langkah nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.
Hal tersebut disampaikan Aji Andika Mufti, Sekretaris Jenderal Pengusaha Tani Indonesia, yang menilai Muktamar ke-35 NU merupakan momentum penting untuk memperkuat persatuan, persahabatan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Catut Identitas Polri, Pria 23 Tahun Diduga Peras Korban dengan Ancaman Sebar Video Pribadi
Menurut Aji, perbedaan pilihan, pandangan, maupun dinamika yang muncul dalam Muktamar merupakan bagian dari proses organisasi. Namun, setelah seluruh proses Muktamar selesai, semangat persaudaraan harus tetap dijaga. Kepentingan umat dan kemaslahatan masyarakat harus menjadi tujuan bersama.
“Apa pun hasil Muktamar, yang paling penting adalah bagaimana hasil tersebut dapat membawa kemaslahatan bagi warga Nahdliyin. Persatuan dan persahabatan harus tetap kita jaga. Jangan sampai dinamika Muktamar membuat kita kehilangan tujuan utama, yaitu memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat,” ujar Aji.
Ia menegaskan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah kesejahteraan masyarakat pedesaan dan para petani. Menurutnya, petani merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus sektor yang memiliki posisi strategis bagi bangsa.
Petani memiliki peran besar dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Dari tangan para petani, berbagai kebutuhan pangan diproduksi dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Karena itu, perhatian terhadap petani tidak boleh hanya muncul ketika terjadi persoalan pangan atau kenaikan harga komoditas.
“Petani adalah sektor penting dan strategis. Kalau kita ingin membangun ketahanan pangan, maka kita harus memperhatikan kesejahteraan petani. Jangan hanya berbicara tentang hasil produksi, tetapi juga bagaimana petaninya sejahtera, mendapatkan akses pasar, mendapatkan dukungan teknologi, permodalan, dan memiliki kepastian dalam menjalankan usaha taninya,” kata Aji.
Sebagai Sekretaris Jenderal Pengusaha Tani Indonesia, Aji melihat bahwa sektor pertanian memiliki tantangan yang semakin besar. Petani tidak hanya menghadapi persoalan produksi, tetapi juga perubahan iklim, biaya produksi, akses permodalan, fluktuasi harga, distribusi, hingga persoalan regenerasi petani.
Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian dan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, pesantren, serta komunitas petani perlu membangun kerja sama agar sektor pertanian dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Aji berharap NU, dengan jaringan sosial dan pesantren yang tersebar hingga berbagai daerah, dapat terus mengambil peran dalam penguatan ekonomi masyarakat. Potensi besar tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
“NU memiliki kekuatan besar di masyarakat. Ada pesantren, lembaga pendidikan, organisasi, komunitas, dan warga Nahdliyin yang tersebar di berbagai daerah. Potensi ini bisa menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan. Salah satunya melalui pemberdayaan petani dan pengembangan sektor pertanian,” jelasnya.
Menurut Aji, kesejahteraan warga Nahdliyin harus menjadi salah satu ukuran penting dari keberhasilan sebuah gerakan sosial dan kebangsaan. Semangat perjuangan harus mampu diterjemahkan menjadi program yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menilai, warga Nahdliyin yang berada di desa-desa memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai petani, pelaku UMKM, pedagang, nelayan, peternak, maupun pelaku usaha lainnya.
Karena itu, penguatan ekonomi warga harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak cukup hanya memberikan bantuan, tetapi juga perlu membangun kemampuan, akses, jaringan usaha, teknologi, serta pasar yang dapat membuat masyarakat semakin mandiri.
“Kita ingin warga Nahdliyin tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi. Mereka harus menjadi pelaku. Petani harus semakin kuat, UMKM harus berkembang, dan masyarakat desa harus memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya,” tegas Aji.
Baca juga: Dishub Jombang Disiagakan Di Berbagai Titik,Pastikan Muktamar NU ke 35 Lancar
Ia juga mengingatkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan petani. Ketika petani mendapatkan kehidupan yang layak, memiliki kepastian usaha, dan generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan, maka masa depan pertanian Indonesia akan semakin kuat.
Sebaliknya, jika persoalan kesejahteraan petani tidak mendapatkan perhatian, maka regenerasi petani akan menjadi tantangan besar. Anak-anak muda di pedesaan akan semakin enggan meneruskan profesi orang tuanya karena melihat pertanian belum memberikan kepastian ekonomi.
Karena itu, Aji mendorong agar pertanian dipandang sebagai sektor strategis dan bagian penting dari pembangunan nasional, bukan sekadar pekerjaan tradisional masyarakat pedesaan.
“Pertanian harus kita tempatkan sebagai sektor strategis. Petani harus mendapatkan ruang, perhatian, perlindungan, dan kesempatan untuk berkembang. Kalau petani sejahtera, ketahanan pangan kita juga akan semakin kuat,” ujarnya.
Lebih jauh, Aji berharap semangat Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Menurutnya, persatuan tidak hanya diwujudkan melalui kebersamaan dalam forum, tetapi juga melalui kesediaan untuk membantu dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Muktamar, lanjutnya, harus menjadi awal dari kerja-kerja nyata setelah forum selesai. Apa yang dibicarakan dan diputuskan di tingkat organisasi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi gerakan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Muktamar bukan akhir, tetapi awal untuk melakukan kerja yang lebih besar. Apa pun hasilnya, mari kita kembali kepada masyarakat, memperkuat persaudaraan, memperkuat ekonomi warga, dan memastikan bahwa keberadaan NU benar-benar memberikan kemanfaatan bagi umat,” tutur Aji.
Ia menambahkan, menjaga persatuan warga Nahdliyin merupakan tanggung jawab bersama. Perbedaan pandangan dalam Muktamar hendaknya tidak menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Justru setelah Muktamar, seluruh elemen diharapkan kembali bergandengan tangan untuk menjalankan agenda yang lebih besar bagi kemaslahatan masyarakat.
Baca juga: Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Desa Godong Gudo Jombang Meriah, 15 Sound Lokal Turut Ramaikan
Dalam pandangan Aji, kekuatan Nahdlatul Ulama tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi juga pada kedekatannya dengan masyarakat. Karena itu, keberpihakan terhadap persoalan ekonomi rakyat harus terus diperkuat.
“Kita boleh berbeda pilihan dan pandangan, tetapi jangan berbeda dalam semangat untuk menyejahterakan masyarakat. Persatuan harus tetap dijaga, persahabatan harus dirawat, dan kesejahteraan warga Nahdliyin harus menjadi prioritas,” katanya.
Aji berharap Muktamar ke-35 NU mampu melahirkan energi positif bagi seluruh warga Nahdliyin. Energi tersebut diharapkan tidak berhenti pada proses pemilihan atau keputusan organisasi, tetapi berlanjut dalam bentuk program dan kerja nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Terutama bagi para petani, ia berharap akan semakin banyak perhatian dan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Mulai dari penguatan produksi, akses teknologi, permodalan, pendampingan, pengolahan hasil pertanian, hingga perluasan pasar.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita adalah kemanfaatan. Kalau masyarakat semakin sejahtera, petani semakin kuat, ekonomi desa semakin tumbuh, dan persatuan semakin kokoh, maka itulah bagian dari perjuangan yang sesungguhnya,” pungkas Aji Andika Mufti.
Muktamar ke-35 NU diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, merawat persahabatan, dan menghadirkan kemaslahatan. Apa pun hasil Muktamar, kesejahteraan warga Nahdliyin—khususnya para petani sebagai sektor penting dan strategis—harus tetap menjadi prioritas bersama.
Editor : redaksi