MALANG, Metrosurya.com – "Aisyah Ar-Rumy bukan sekadar penghafal, ia adalah simbol dari ketekunan yang melampaui usia." Aisyah belajar di sebuah ruang sederhana di kawasan Pakis, Kabupaten Malang, lantunan ayat suci mengalir jernih dari bibir Aisyah Ar-Rumy (IG @aisyah_hafizind). Meski masih berusia belia, Ia memiliki ketahanan hafalan yang luar biasa dengan ritme bacaan yang tenang dan tajwid yang presisi. Santriwati cilik didikan SDTQ Daarul Ukhuwwah Asrikaton ini kini menjadi perbincangan hangat setelah berhasil membawa nama harum Indonesia melenggang ke kompetisi internasional di Dubai. Atas Prestasinya, Aisyah Ar Rumy tembus tiga besar Dubai International Holy Quran Award 2026
Prestasi Aisyah merupakan buah dari disiplin ketat yang dijalani di lingkungan pesantren sejak dini. Pada usia yang baru menginjak 9 hingga 10 tahun, ia telah berhasil menghafal 26 juz Al-Qur’an dan kini tengah berproses menyempurnakannya hingga khatam 30 juz. Setiap harinya, Aisyah konsisten menambah hafalan baru sebanyak tiga hingga lima lembar, serta menjaga kualitasnya dengan melakukan murojaah atau pengulangan mandiri sebanyak tiga sampai lima juz per hari.
Baca juga: Bea Cukai Malang Gagalkan Distribusi Rokok Ilegal
Langkah menuju panggung global tidak diraih dengan instan, melainkan melalui proses kurasi ketat yang dilakukan secara daring oleh penyelenggara Festival Tahfidzul Qur’an internasional di Dubai. Pimpinan pesantren, Muhammad Ajir Abdi Munip, menjelaskan bahwa kemampuan Aisyah dinilai melampaui standar kriteria peserta dunia. Keberhasilan ini menjadi bukti otentik bahwa sistem pendidikan berbasis tahfidz di tingkat daerah mampu mencetak talenta yang kompetitif secara global.
Baca juga: Temuan Jasad Bayi Gegerkan Warga Pandanwangi
Dukungan penuh pun mengalir dari Pemerintah Kabupaten Malang yang melepas keberangkatan Aisyah pada 18 Februari 2026. Bupati Malang, Sanusi, secara langsung memberikan apresiasi berupa uang saku sebesar Rp30 juta sebagai bentuk dukungan moral bagi sang hafizah. Pemerintah daerah berharap prestasi Aisyah dapat menjadi pemantik semangat bagi munculnya generasi-generasi berprestasi lainnya yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Kesuksesan ini juga dipandang sebagai cerminan keberhasilan ekosistem pendidikan di Malang yang menerapkan program "Sekolah Plus Ngaji". Kebijakan muatan lokal ini mewajibkan siswa membaca kitab suci sebelum memulai pelajaran akademik guna membentuk karakter dan ketenangan batin sejak dini. Melalui pendekatan religius yang konsisten, sekolah-sekolah di Malang kini bertransformasi menjadi inkubator bagi lahirnya para penghafal Al-Qur’an berbakat seperti Aisyah.
Baca juga: Polisi Selidiki Penyebab Kandang Ayam Roboh, Dua Pekerja Tewas
Bagi Aisyah, mewakili Indonesia di Dubai merupakan kebanggaan yang tak ternilai, namun ia tetap rendah hati dan bersyukur atas segala dukungan yang diterima. Kisah perjalanannya menjadi simbol kuat bahwa keterbatasan wilayah bukan penghalang untuk meraih prestasi mendunia. Aisyah Ar-Rumy telah membuktikan bahwa ketekunan dari sebuah desa mampu menciptakan getaran inspirasi yang menjangkau hingga ke tingkat global.
Editor : redaksi