Surabaya, Metrosurya.com - Bersepeda tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan jantung. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan bersepeda juga berpotensi membantu menjaga kesehatan otak serta menurunkan risiko demensia di usia lanjut.
Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal JAMA Network Open pada Juni 2025. Studi berskala besar itu melibatkan 479.723 peserta dari UK Biobank dengan usia rata-rata 56 tahun dan tanpa riwayat demensia saat penelitian dimulai.
Para peneliti memantau kondisi kesehatan peserta selama rata-rata 13,1 tahun melalui data rumah sakit dan registrasi kematian. Selama periode tersebut, tercatat 8.845 kasus demensia dan 3.956 kasus penyakit Alzheimer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang rutin bersepeda atau mengombinasikan sepeda dengan moda transportasi lain memiliki risiko demensia sekitar 19 persen lebih rendah dibanding mereka yang lebih sering menggunakan transportasi pasif seperti mobil, kendaraan bermotor, atau angkutan umum.
Tak hanya itu, risiko penyakit Alzheimer pada kelompok pesepeda tercatat sekitar 22 persen lebih rendah. Sementara risiko demensia yang muncul sebelum usia 65 tahun berkurang hingga 40 persen, dan sekitar 17 persen lebih rendah untuk demensia yang muncul pada usia lanjut.
Menurut para peneliti, manfaat tersebut kemungkinan tidak hanya berasal dari aktivitas fisik yang dilakukan saat mengayuh sepeda. Bersepeda juga menuntut otak untuk bekerja secara aktif dalam menjaga keseimbangan, membaca kondisi jalan, memperkirakan jarak, menentukan arah, serta merespons berbagai situasi lalu lintas secara cepat.
“Bersepeda melibatkan koordinasi antara penglihatan, pendengaran, perhatian, pengambilan keputusan, serta kemampuan motorik secara bersamaan,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Temuan itu diperkuat oleh hasil pemindaian MRI terhadap 44.801 peserta. Kelompok pesepeda diketahui memiliki volume materi abu-abu yang lebih besar pada sejumlah area otak, termasuk hipokampus, bagian yang berperan penting dalam proses belajar, pembentukan memori, dan navigasi ruang.
Hipokampus juga merupakan salah satu area otak yang paling awal terdampak pada penderita penyakit Alzheimer.
Selain meningkatkan aktivitas otak, bersepeda membantu menjaga kesehatan sistem kardiovaskular. Aktivitas fisik diketahui berkontribusi dalam mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, serta faktor-faktor lain yang berkaitan dengan risiko demensia.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa bersepeda bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan otak. Risiko demensia juga dipengaruhi oleh usia, faktor genetik, pendidikan, pola makan, kebiasaan merokok, kesehatan jantung, hingga interaksi sosial.
Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Data moda transportasi diperoleh dari kebiasaan peserta dalam empat minggu terakhir saat penelitian dimulai, sehingga tidak mencerminkan perubahan pola hidup selama lebih dari satu dekade masa pengamatan.
Selain itu, mayoritas peserta berasal dari keturunan Eropa sehingga hasil penelitian belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi masyarakat di negara lain, termasuk Indonesia.
Meski demikian, temuan tersebut sejalan dengan rekomendasi kesehatan global yang menempatkan aktivitas fisik sebagai salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Bagi masyarakat Indonesia, para ahli menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan saat bersepeda, termasuk menggunakan helm, memastikan kondisi sepeda layak digunakan, serta memilih rute yang aman dan sesuai kemampuan.
Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa sepeda merupakan obat untuk mencegah demensia. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana seperti bersepeda dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkontribusi menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.
Di tengah gaya hidup modern yang semakin minim aktivitas fisik, bersepeda menjadi salah satu pilihan praktis untuk tetap bergerak, sekaligus memberi manfaat bagi kesehatan tubuh dan otak. (@red)
Editor : redaksi