SURABAYA, METROSURYA.com — Wacana penentuan lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 terus mengemuka dan menjadi perhatian berbagai kalangan Nahdliyin. Ketua Laskar Jam’iyah Lowo Ijo, Moch Suwarno, menilai pemilihan lokasi Muktamar bukan sekadar persoalan teknis, melainkan keputusan strategis yang menyangkut arah masa depan jam’iyah.
Menurut Suwarno, perdebatan antara Surabaya atau luar Pulau Jawa tidak semestinya dipertentangkan secara dikotomis. Keduanya justru mencerminkan pilihan strategis NU antara meneguhkan akar sejarah dan memperluas peran sebagai kekuatan kebangsaan yang inklusif.
Baca juga: Menjaga Kedaulatan Muktamar dan Etika Evaluasi Kepemimpinan NU
“Surabaya atau luar Jawa bukanlah pilihan yang saling meniadakan. Keduanya adalah cermin arah strategis NU. Tinggal bagaimana panitia bersama PBNU nantinya mampu memilih lokasi yang paling tepat,” ujar Suwarno, Minggu (18/1/2026).
Ia menekankan, tantangan utama Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuan memilih tempat yang tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga mampu merawat persatuan warga NU serta menegaskan orientasi masa depan jam’iyah.
Suwarno menyebut Surabaya memiliki nilai historis yang sangat kuat. Kota Pahlawan merupakan saksi kelahiran NU pada 1926 sekaligus lokasi berdirinya kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pertama.
“Menjadikan Surabaya sebagai tuan rumah Muktamar bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi ikhtiar untuk menguatkan kembali ingatan kolektif NU terhadap akar dan nilai dasarnya,” kata dia.
Baca juga: Haul Gus Dur ke-16: Meneguhkan Spirit Perjuangan untuk Rakyat
Selain faktor historis, Surabaya juga dinilai siap secara infrastruktur. Keberadaan Asrama Haji Sukolilo yang telah berpengalaman menjadi lokasi kegiatan berskala nasional menjadi salah satu keunggulan kota ini.
Namun demikian, Suwarno juga mengapresiasi kesiapan sejumlah daerah di luar Surabaya yang telah mengajukan diri sebagai tuan rumah. Ia menilai hal tersebut menunjukkan semangat kebangsaan NU yang terus tumbuh di berbagai wilayah.
Saat ini, wacana lokasi Muktamar NU ke-35 masih berada pada tahap awal pembahasan. Beberapa wilayah seperti Lampung mengusulkan Pondok Pesantren Al Falah Sumbermulya, Tanggamus, sebagai lokasi Muktamar. Situbondo juga dinilai siap menjadi tuan rumah.
Di Jawa Timur, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, disebut sebagai salah satu kandidat kuat setelah tercapainya kesepakatan islah internal NU. Selain itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga kerap disebut dalam dinamika pembahasan.
Meski demikian, PBNU hingga kini belum menetapkan lokasi resmi Muktamar ke-35 NU. Fokus utama PBNU masih pada konsolidasi internal pasca-islah serta memastikan seluruh persyaratan organisasi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) terpenuhi.
“Di tengah kompleksitas tantangan kebangsaan hari ini, pulang ke sejarah bisa menjadi salah satu cara NU menata ulang orientasi perjuangannya, tanpa menutup diri dari semangat kebangsaan yang lebih luas,” pungkas Suwarno. (@dex)
Editor : redaksi