PENDAKI JAWA TIMUR Taklukkan Kabut dan Hujan dalam Ekspedisi Lintas Gunung Gede Pangrango

avatar redaksi

METRO SURYA, CIBODAS - Kabut tebal menggantung di lereng pegunungan. Rintik hujan turun perlahan membasahi jalur setapak yang licin dan sunyi. Di tengah dinginnya alam Gunung Gede Pangrango, langkah demi langkah tetap dipaksakan menembus belantara hutan pegunungan. Semangat itulah yang dibawa rombongan PENDAKI JAWA TIMUR (PANJAT) saat melakukan ekspedisi lintas jalur Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Momentum libur panjang dimanfaatkan komunitas pendaki asal Jawa Timur tersebut untuk melakukan perjalanan eksplorasi sekaligus pendakian lintas jalur yang dikenal cukup melelahkan. Pada ekspedisi kali ini, mereka memilih dua mahakarya alam Jawa Barat, yakni Gunung Gede dan Gunung Pangrango.

Perjalanan dimulai pada 13 Mei 2025 pukul 15.00 WIB dari Base Camp Pendaki Jawa Timur yang terletak di Kabupaten Sidoarjo. Dengan menggunakan jalur darat, tim menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 14 jam menuju kawasan Cibodas. Tubuh lelah akibat perjalanan tak menyurutkan semangat mereka. Sesampainya di Base Camp Explore Cibodas, tim hanya beristirahat sejenak sebelum milik mang UYUNG ,mereka memulai petualangan besar mereka.

Tepat pukul 10.00 WIB, rombongan mulai memasuki jalur pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas. Jalur yang terkenal dengan hutan tropis lembab, akar pohon raksasa, serta udara dingin itu menyambut mereka dengan suasana liar khas pegunungan.

Satu demi satu pos berhasil dilewati. Nafas mulai berat, pundak terasa kaku, dan kaki mulai kehilangan tenaga. Namun tekad mereka tak runtuh. Setelah melewati 12 pos pendakian, tim akhirnya tiba di Kandang Badak pukul 18.00 WIB dan segera mendirikan tenda untuk beristirahat.

Keesokan paginya, 15 Mei 2025 pukul 05.00 WIB,setelah sarapan Roti bakar perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Pangrango dan Sabana Mandalawangi. Jalur menanjak dengan hawa dingin menusuk tulang menjadi ujian tersendiri bagi para peserta.

Namun semua rasa lelah seolah terbayar saat hamparan sabana Mandalawangi terlihat di hadapan mereka. Kabut tipis, rumput luas yang bergoyang diterpa angin, serta aroma bunga bunga Edelweis dan hutan pegunungan menciptakan suasana yang begitu magis.

“Mendaki di Gunung Pangrango dan Gede memang sangat asik, karena masih banyak anggrek liar, berbagai macam spesies lumut, dan sumber air juga melimpah,” ujar Yani, peserta wanita asal Mojokerto.

“Namun tanjakan-tanjakannya bikin kaki dan lutut gemetaran,dan agak ngilu, tapi bikin hati saya bahagia banget ” tambah wanita yang pernah melakukan pendakian di negeri Cina tersebut sambil tertawa.

Pukul 10.00 WIB, tim turun kembali menuju Kandang Badak. Setelah makan siang dan berkemas, perjalanan berat berikutnya dimulai: menuju Puncak Gunung Gede.

Tanjakan demi tanjakan mereka lewati di bawah guyuran hujan dan kabut tebal. Jalur “Tanjakan Setan” yang terkenal curam menjadi ujian mental dan fisik paling berat dalam ekspedisi kali ini. Beberapa kali tim harus berhenti untuk mengatur nafas sambil menahan dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang.

Meski demikian, semangat kebersamaan membuat mereka tetap melangkah.

Pukul 17.15 WIB, perjuangan itu akhirnya terbayar. Tim Pendaki Jawa Timur berhasil mencapai Puncak Gunung Gede dalam kondisi gerimis dan berkabut. Bibir kawah yang diselimuti kabut pekat menghadirkan suasana dramatis sekaligus menegangkan.

Usai berfoto dan beristirahat sejenakdi puncak gunung Gede yang berketinggian , perjalanan dilanjutkan menuju Alun-Alun Surya Kencana — sabana legendaris yang terkenal dengan hamparan bunga edelweisnya.

Dalam gelap malam dan dinginnya hujan gunung, mereka akhirnya tiba di Surya Kencana pukul 19.45 WIB. Tenda segera didirikan. Aroma masakan hangat mulai memenuhi area perkemahan, menjadi pengobat rasa lelah setelah seharian bertarung dengan jalur ekstrem.

“Alhamdulillah, perjalanan kita kali ini sukses dan semua peserta senang. Walaupun mendaki dalam guyuran hujan dan kabut, keindahan Sabana Surya Kencana benar-benar mengobati lelah kami,” ujar Dimas, peserta termuda dalam ekspedisi tersebut.

Keesokan harinya pukul 10.00 WIB, rombongan mulai turun melalui jalur Putri. Tubuh yang lelah dan pakaian yang basah akibat hujan membuat perjalanan turun terasa begitu panjang. Namun semangat untuk menyelesaikan ekspedisi tetap menyala.

Pukul 12.25 WIB, tim akhirnya tiba di Pos Perijinan Gunung Gede via Putri. Tiga puluh lima menit kemudian, mereka sudah kembali sampai di kawasan Cibodas.

Usai membersihkan diri dan beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju BC Mustika di Bekasi untuk bersilaturahmi dengan rekan-rekan sesama pendaki.

“Tim ekspedisi dari Pendaki Jawa Timur yang melakukan pendakian lintas Cibodas–Putri memang sangat hebat,” ujar Ajie Tea dari BC Mustika.

“Selama ini kami biasa melakukan lintas dari Putri ke Cibodas. Tapi teman-teman yang dipimpin Mas Arry Kidz selaku Sekretaris PENDAKI JAWA TIMUR, ini benar-benar luar biasa. Salut buat Mas Arry Kidz dan kawan-kawan. Jatim hebat!” tegasnya.

Setelah beristirahat dan mempererat silaturahmi di BC Mustika, pada 17 Mei 2025 pukul 05.00 WIB, tim akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Jawa Timur.

Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bukti tentang solidaritas, keberanian, dan semangat persaudaraan yang terus hidup di antara para pendaki Nusantara.

(@k47)

IKLAN LOWONGAN
GM HENDRO

Berita Terbaru

PERBAKIN GRESIK