Metrosurya.com,Cirebon Jawa Barat - Puluhan siswa sekolah dasar (SD) di Kota Cirebon dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (20/10/2026).
Sejumlah siswa dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis setelah mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, hingga buang air besar (BAB).
Baca juga: Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa Cigobang Kecamatan Pasaleman Sosok RKPDes 2027
Informasi yang dihimpun menyebutkan, para siswa tersebut berasal dari tiga sekolah di sekitar Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Sejak sore menjelang waktu Magrib, para siswa bersama orang tua masing-masing mulai berdatangan ke RS Siloam Putera Bahagia, salah satu fasilitas kesehatan yang menangani para korban.
Suasana di area rumah sakit pun dipenuhi orang tua yang menunggu kabar mengenai kondisi anak-anak mereka. Raut kecemasan terlihat di tengah upaya keluarga memastikan buah hati mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Berdasarkan keterangan salah seorang orang tua siswa, anaknya mulai mengeluhkan sakit perut setelah menyantap makanan yang disebut berasal dari menu MBG.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihak sekolah sempat menyarankan pemberian air kelapa kepada anaknya. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa hingga kini belum dapat dipastikan.
Selain sakit perut, keluhan yang dilaporkan meliputi mual, muntah, dan BAB. Menu yang disebut dikonsumsi para siswa di antaranya sayur sop dan telur puyuh.
Meski demikian, belum ada kepastian bahwa makanan tersebut menjadi penyebab keluhan kesehatan para siswa.
Penetapan penyebab kejadian memerlukan pemeriksaan medis serta penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh tanggapan resmi dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon , dan belum memberikan respons saat dihubungi untuk dimintai keterangan.
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Para pihak lainnya dan media ini belum memperoleh data valid. Peristiwa ini menjadi perhatian, terutama terkait keamanan makanan yang dikonsumsi para siswa. Klarifikasi dari instansi terkait diperlukan untuk memastikan kronologi kejadian, kondisi terkini para siswa, serta ada atau tidaknya hubungan antara keluhan kesehatan tersebut dengan menu MBG yang dikonsumsi.
Masyarakat diharapkan menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang agar penyebab kejadian dapat diketahui secara jelas dan tidak menimbulkan spekulasi.
Nurhari
Editor : redaksi